Saat ini ditulis, hujan deras. Tetesan rembesan air masuk ke dalam kamarku. Laptop ini sedikit basah terkena piasan air yang masuk. Tanganku masih sakit, bekas jatuh di jalan kemarin. Namun, otak ini tetap memaksa inging menulis sesuatu. Sesuatu yang mungkin tidak tentu ruduh isinya. Sesuatu yang mungkin hanya berisi goresan perasaan sentimentil karena pengaruh hujan.
Kamar di mana aku berada sepi. Hanya perabot dan buku yang menemani. Selain tangan yang sakit. Kaki yang luka juga sakit. Punggung dan tangan yang keselo juga masih menyisihkan perih. Tetapi otak masih saja memaksa tangan yang sakit untuk terus menekan tuts pada laptop. Yang penting ada sesuatu yang kutulis.
Blog ini seharusnya berisi pelajaran. Blog ini seharus berisi sesuatu yang bisa menambah pengetahuan. Tetapi beberapa bulan, blog ini tidak ada tambahan. Blog ini seperti kehilangan jiwanya. Seperti pemiliknya yang juga belakangan ini merasa seperti bagian jiwanya ada yang hilang.
Entah kapan bagian jiwa itu akan kembali. Kemana jiwa itu berjalan? Kemana ia pergi? Apakah ia mengikuti keinginan untuk berlibur, atau keinginan untuk keluar dari kejenuhan? Kembalilah jiwaku... Aku butuh kamu... Aku butuh kamu untuk mengisi kembali sepenuh jiwa dan ragaku agar seluruhnya menyatu.
Kamis, 28 Agustus 2008
Berat
Sewaktu aku mengikuti seluruh proses seleksi fellow untuk schoolarship IFP aku menapak dengan penuh harap. Aku berusaha meyakinkan diriku supaya berusaha keras agar dapat diterima. Sekarang aku sudah terpilih. Salah satu dari 36.... Langkah kakiku justru menjadi berat. Aku sering menatapi lorong-lorong kelas. Aku sering menyampaikan perpisahan tersirat pada siswaku. Aku juga seperti menanti detik-detik untuk berpisah dengan sahabat-sahabatku... Serasa ada rantai yang sulit untuk aku putus. Tetapi di sisi lain ada kekuatan yang berusaha membuat aku lepas dari rantai itu. Aku seperti berada dalam dua alam.... Tinggal tidak.... pergipun berat.... Semoga keputusan yang kubuat adalah yang terbaik. Semoga Roh Kudus selalu membimbing aku ke jalan yang terbaik....Salam untuk semua
Untukmu
Harapku tumbuh padamu
Sukaku usahakan untumu
Amarahku tumpah padamu
Ruangku sebagian untukmu
Goresan penaku menghias lembar harimu
Suaraku mengisi ruang-ruang keramaianmu
Tapakan kakiku mengangkat setiap harapanmu
Doaku menyertaimu...
Sukaku usahakan untumu
Amarahku tumpah padamu
Ruangku sebagian untukmu
Goresan penaku menghias lembar harimu
Suaraku mengisi ruang-ruang keramaianmu
Tapakan kakiku mengangkat setiap harapanmu
Doaku menyertaimu...
Saat
Saat datang
ada harapan
Saat berada
ada perjuangan
Saat bersama
ada kegembiraan
Saat jauh
ada kerinduan
Saat berduka
ada penghiburan
Saat bersuka
ada keusaian
Saat berpisah
ada harapan bersua
ada harapan
Saat berada
ada perjuangan
Saat bersama
ada kegembiraan
Saat jauh
ada kerinduan
Saat berduka
ada penghiburan
Saat bersuka
ada keusaian
Saat berpisah
ada harapan bersua
Senin, 11 Agustus 2008
PENGANTAR METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi penelitian merupakan keseluruhan proses berpikir mulai dari ditemukannya masalah, menjabarkannya dalam kerangka teori tertentu, menentukan teknik dan alat pengumpulan data sampai dengan penarikan kesimpulan. Sedangkan metode penelitian adalah cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu. Cara ilmiah adalah suatu kegiatan yang dilandasi dengan metode keilmuan. Metode keilmuan merupakan gabungan pendekatan rasional dan empiris.
Cara-cara ilmiah dalam penelitian diharapkan dapat membantu peneliti memperoleh data yang memiliki sifat objektif, valid, dan reliabel. Objektif artinya semua orang akan menafsirkan data dengan cara yang sama. Valid berarti ada kesesusian antara keadaan objek yang diteliti dengan data yang ditemukan. Reliabel artinya data konsisten dan dapat dipercaya.
Tujuan kegiatan penelitian adalah menemukan, membuktikan, mengembangkan dan mengantisipasi suatu masalah. Menemukan artinya berusaha mendapatkan ssesuatu yang baru untuk mengisi kekosongan atau kekurangan. Membuktikan artinya melakukan pengujian terhadap kebenaran sesuatu yang masih diragukan. Mengembangkan berarti memperluas dan menggali lebih dalam sesuatu yang sudah ada. Mengantisipasi artinya berusaha menghasilkan sesuatu yang dapat mempertahankan, memperbaiki, atau mengubah keadaan bermasalah menjadi normal.
Penggolongan jenis-jenis penelitian dilakukan untuk berbagai kepentingan dan berpedoman pada cara ilmuwan melakukan peninjauan terhadap aktivitas penelitian. Ilmuwan tertentu menggolongan penelitian berdasarkan tujuan. Ada pula yang menggolongkan berdasarkan pendekatan. Ilmuwan lainnya menggolongkan berdasarkan cara menjelaskan. Sedangkan yang paling banyak digunakan adalah menggolongkan penelitian berdasarkan jenis data.
Penelitian berdasarkan tujuannya dapat dikelompokkan menjadi penelitian murni (pure research) dan penelitian terapan (applied research). Penelitian murni adalah penelitian yang dilakukan sepanjang hasilnya bermanfaat untuk pengembangan teori. Penelitian ini banyak dilakukan oleh ilmuwan alam, misalnya untuk membuktikan atau menguji Hukum Newton atau meneliti kebenaran Teori Darwin. Penelitian terapan dilakukan agar hasilnya dapat diterapkan untuk mengatasi masalah-masalah praktis. Penelitian ini dapat dilakukan untuk mengetahui efektivitas harga saham atau menelusuri adat perkawinan suku bangsa tertentu.
Jenis penelitian menurut pendekatannya dapat dibedakan menjadi survei, ex post facto, penelitian percobaan, penelitian naturalistik, penelitian kebijakan, penelitian tindakan, dan penelitian evaluasi. Survei dapat digunakan untuk mengumpulkan data sampel dari komunitas berukuran besar. Ex post facto diterapkan terhadap kejadian atau peristiwa yang telah terjadi. Penelitian percobaan berusaha mencari pengaruh sebuah variabel terhadap suatu kondisi yang terkontrol ketat. Penelitian naturalistik menangani pengumpulan data yang bersifat nonangka (kualitatif). Penelitian kebijakan dilakukan untuk memahami dan menilai kebijakan yang diambil oleh pemerintah atau suatu asosiasi. Penelitian tindakan bertujuan mengembangan pendekatan dan program sesuatu dengan tindakan yang diamati. Penelitian evaluasi merupakan penelitian yang menilai suatu kegiatan program. Jika penilaian dilakukan pada prosesnya disebut penelitian evaluasi formatif, sedangkan jika penelitiannya dilakukan pada hasil akhirnya disebut penelitian sumatif.
Penelitian berdasarkan tingkat penjelasannya dijelaskan menjadi penelitian deskriptif, penelitian komparatif, dan penelitian asosiatif. Penelitian deskriptif berusaha menggambarkan kondisi masayarakat atau objek sesuai dengan keadaan yang ditemukan atau diamati. Penelitian komparatif melakukan perbandingan antara suatu kondisi atau komunitas dengan kondisi atau komunitas lain. Penelitian asosiatif adalah penelitian yang menelusuri sebab-akibat suatu peristiwa atau gejala yang terjadi.
Jenis penelitian menurut jenis datanya dibedakan menjadi penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif meninjau hakekat kenyataan secara tunggal, nyata, serta terfragmentasi; hubungan antara peneliti dengan yang diteliti terpisah; generalisasi dilakukan bebas waktu sesuai dengan konteks penelitian; sedangkan hubungan sebab-akibatnya didasarkan pada penyebab sebenarnya. Penelitian kualitats memandang hakekat kenyataan sebagai kondisi ganda dan utuh; hubungan antara peneliti dengan yang diteliti tidak dapat dipisahkan; generalisasi terikat waktu dan konteks terikat pada hipotesis; dan hubungan variabel tidak didasarkan pada sebab akibat melainkan bersifat resiprokal (sebab – akibat atau akibat – sebab).
Cara-cara ilmiah dalam penelitian diharapkan dapat membantu peneliti memperoleh data yang memiliki sifat objektif, valid, dan reliabel. Objektif artinya semua orang akan menafsirkan data dengan cara yang sama. Valid berarti ada kesesusian antara keadaan objek yang diteliti dengan data yang ditemukan. Reliabel artinya data konsisten dan dapat dipercaya.
Tujuan kegiatan penelitian adalah menemukan, membuktikan, mengembangkan dan mengantisipasi suatu masalah. Menemukan artinya berusaha mendapatkan ssesuatu yang baru untuk mengisi kekosongan atau kekurangan. Membuktikan artinya melakukan pengujian terhadap kebenaran sesuatu yang masih diragukan. Mengembangkan berarti memperluas dan menggali lebih dalam sesuatu yang sudah ada. Mengantisipasi artinya berusaha menghasilkan sesuatu yang dapat mempertahankan, memperbaiki, atau mengubah keadaan bermasalah menjadi normal.
Penggolongan jenis-jenis penelitian dilakukan untuk berbagai kepentingan dan berpedoman pada cara ilmuwan melakukan peninjauan terhadap aktivitas penelitian. Ilmuwan tertentu menggolongan penelitian berdasarkan tujuan. Ada pula yang menggolongkan berdasarkan pendekatan. Ilmuwan lainnya menggolongkan berdasarkan cara menjelaskan. Sedangkan yang paling banyak digunakan adalah menggolongkan penelitian berdasarkan jenis data.
Penelitian berdasarkan tujuannya dapat dikelompokkan menjadi penelitian murni (pure research) dan penelitian terapan (applied research). Penelitian murni adalah penelitian yang dilakukan sepanjang hasilnya bermanfaat untuk pengembangan teori. Penelitian ini banyak dilakukan oleh ilmuwan alam, misalnya untuk membuktikan atau menguji Hukum Newton atau meneliti kebenaran Teori Darwin. Penelitian terapan dilakukan agar hasilnya dapat diterapkan untuk mengatasi masalah-masalah praktis. Penelitian ini dapat dilakukan untuk mengetahui efektivitas harga saham atau menelusuri adat perkawinan suku bangsa tertentu.
Jenis penelitian menurut pendekatannya dapat dibedakan menjadi survei, ex post facto, penelitian percobaan, penelitian naturalistik, penelitian kebijakan, penelitian tindakan, dan penelitian evaluasi. Survei dapat digunakan untuk mengumpulkan data sampel dari komunitas berukuran besar. Ex post facto diterapkan terhadap kejadian atau peristiwa yang telah terjadi. Penelitian percobaan berusaha mencari pengaruh sebuah variabel terhadap suatu kondisi yang terkontrol ketat. Penelitian naturalistik menangani pengumpulan data yang bersifat nonangka (kualitatif). Penelitian kebijakan dilakukan untuk memahami dan menilai kebijakan yang diambil oleh pemerintah atau suatu asosiasi. Penelitian tindakan bertujuan mengembangan pendekatan dan program sesuatu dengan tindakan yang diamati. Penelitian evaluasi merupakan penelitian yang menilai suatu kegiatan program. Jika penilaian dilakukan pada prosesnya disebut penelitian evaluasi formatif, sedangkan jika penelitiannya dilakukan pada hasil akhirnya disebut penelitian sumatif.
Penelitian berdasarkan tingkat penjelasannya dijelaskan menjadi penelitian deskriptif, penelitian komparatif, dan penelitian asosiatif. Penelitian deskriptif berusaha menggambarkan kondisi masayarakat atau objek sesuai dengan keadaan yang ditemukan atau diamati. Penelitian komparatif melakukan perbandingan antara suatu kondisi atau komunitas dengan kondisi atau komunitas lain. Penelitian asosiatif adalah penelitian yang menelusuri sebab-akibat suatu peristiwa atau gejala yang terjadi.
Jenis penelitian menurut jenis datanya dibedakan menjadi penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif meninjau hakekat kenyataan secara tunggal, nyata, serta terfragmentasi; hubungan antara peneliti dengan yang diteliti terpisah; generalisasi dilakukan bebas waktu sesuai dengan konteks penelitian; sedangkan hubungan sebab-akibatnya didasarkan pada penyebab sebenarnya. Penelitian kualitats memandang hakekat kenyataan sebagai kondisi ganda dan utuh; hubungan antara peneliti dengan yang diteliti tidak dapat dipisahkan; generalisasi terikat waktu dan konteks terikat pada hipotesis; dan hubungan variabel tidak didasarkan pada sebab akibat melainkan bersifat resiprokal (sebab – akibat atau akibat – sebab).
Minggu, 03 Agustus 2008
Kehilangan Ide
Saat paling sulit bagi seorang penulis adalah ketika otaknya sulit untuk diajak bekerja sama. Sinapsis jaringan-jaringan otaknya tersumbat oleh kejenuhan dan rutinitas. Otaknya serasa mati dan berhenti bekerja. Ide-ide segar yang biasanya mengalir dari pikiran dan menjadi buah pena berhenti mengalir untuk waktu tertentu. Situasi demikian paling sulit dihadapi oleh penulis, tetapi tidak dapat dihindari.
Pengobatan untuk situasi tersebut tidak lain adalah keluar sejenak dari kejenuhan dan rutinitas. Tetapi jika penulis tetap terjepit di tengah-tengah kesibukan tersebut, tentu akan sangat sulit baginya untuk segera keluar dan perhentian aliran ide segarnya juga akan semakin lama. Perhentian itu seperti seorang pasien yang terpaksa harus dirawat inap di rumah sakit. Setelah pulih, ia juga belum tentu mampu menghasilkan karya yang baik.
Penyegaran seperti itulah yang saya perlukan dalam kurun 2 bulan. Selama kurang lebih 2 bulan blog ini memang kosong dan tidak ada kreasi baru. Kejenuhan terhadap rutinitas pekerjaan sebagai guru dan juga PJP PBKL membuat saya merasa perlu mencari pengetahuan baru di luar dari tugas yang telah saya jalani. Selama 2 bulan memang tidak ada satupun tulisan yang berhasil dihasilkan, selain pesan singkat melalui ponsel. Bahkan beberapa rekan dan sahabat juga sempat kesal karena balasan pesan singkat benar-benar sangat singkat. Tulisannya hanya sebatas: “YUP”, “OC”, “YOI”, “BAIKLAH”, “GPP”, “SIP!!”, “YAH G TAU”.
Situasi kram otak tersebut juga membuat saya merasa perlu sendiri. Dalam kesendirian saya mencoba mencari sesuatu yang lebih menyenangkan daripada yang selama ini saya lakukan. Membaca berbagai buku juga terasa begitu melelahkan. Malas membaca juga semakin membuat sinapsis neuron otak semakin banyak yang mati. Untungnya, kram otak tidak membuat saya juga menjadi malas menikmatai hiburan.
Saya masih senang menonton berbagai film, melihat-lihat situasi sekitar (pasar, keramaian, jalan), dan juga mengamati perilaku orang-orang di sekitar saya. Saya mencoba merenung dan memahami lebih jauh jika saya menjadi orang-orang yang saya amati. Saya mencoba menempatkan diri saya ke dalam pribadi orang-orang tersebut, mencoba memikirkan apa yang akan saya lakukan seandainya saya adalah pribadi orang tersebut. Bermacam-macam keliaran pemikiran memang dihasilkan dalam otak saya. Tetapi semua itu tetap hanya merupakan gumpalan-gumpalan tumpukan dalam otak yang tidak juga berhasil diolah menjadi tulisan. Mungkin suatu saat – suatu saat – jika kejenuhan dan kram otak itu hilang – semua itu bisa jadi cerita – bisa jadi bahan mengajar – bisa jadi bahan analisis untuk mengembangkan tulisan-tulisan saya.
Pengobatan untuk situasi tersebut tidak lain adalah keluar sejenak dari kejenuhan dan rutinitas. Tetapi jika penulis tetap terjepit di tengah-tengah kesibukan tersebut, tentu akan sangat sulit baginya untuk segera keluar dan perhentian aliran ide segarnya juga akan semakin lama. Perhentian itu seperti seorang pasien yang terpaksa harus dirawat inap di rumah sakit. Setelah pulih, ia juga belum tentu mampu menghasilkan karya yang baik.
Penyegaran seperti itulah yang saya perlukan dalam kurun 2 bulan. Selama kurang lebih 2 bulan blog ini memang kosong dan tidak ada kreasi baru. Kejenuhan terhadap rutinitas pekerjaan sebagai guru dan juga PJP PBKL membuat saya merasa perlu mencari pengetahuan baru di luar dari tugas yang telah saya jalani. Selama 2 bulan memang tidak ada satupun tulisan yang berhasil dihasilkan, selain pesan singkat melalui ponsel. Bahkan beberapa rekan dan sahabat juga sempat kesal karena balasan pesan singkat benar-benar sangat singkat. Tulisannya hanya sebatas: “YUP”, “OC”, “YOI”, “BAIKLAH”, “GPP”, “SIP!!”, “YAH G TAU”.
Situasi kram otak tersebut juga membuat saya merasa perlu sendiri. Dalam kesendirian saya mencoba mencari sesuatu yang lebih menyenangkan daripada yang selama ini saya lakukan. Membaca berbagai buku juga terasa begitu melelahkan. Malas membaca juga semakin membuat sinapsis neuron otak semakin banyak yang mati. Untungnya, kram otak tidak membuat saya juga menjadi malas menikmatai hiburan.
Saya masih senang menonton berbagai film, melihat-lihat situasi sekitar (pasar, keramaian, jalan), dan juga mengamati perilaku orang-orang di sekitar saya. Saya mencoba merenung dan memahami lebih jauh jika saya menjadi orang-orang yang saya amati. Saya mencoba menempatkan diri saya ke dalam pribadi orang-orang tersebut, mencoba memikirkan apa yang akan saya lakukan seandainya saya adalah pribadi orang tersebut. Bermacam-macam keliaran pemikiran memang dihasilkan dalam otak saya. Tetapi semua itu tetap hanya merupakan gumpalan-gumpalan tumpukan dalam otak yang tidak juga berhasil diolah menjadi tulisan. Mungkin suatu saat – suatu saat – jika kejenuhan dan kram otak itu hilang – semua itu bisa jadi cerita – bisa jadi bahan mengajar – bisa jadi bahan analisis untuk mengembangkan tulisan-tulisan saya.
Busana – Bapak? Adik?
Pada edisi Minggu (Sunday), Jakarta Post menghadirkan tulisan DIAZ yang mengulas berbagai hal mengenai Style Bites. Sebelum mengenal tulisan-tulisan DIAZ saya sering kali menghadapi berbagai situasi membingungkan saat berpenampilan dalam kondisi yang berbeda. Ternyata semua itu memiliki jawaban di dalam pemikiran-pemikiran yang disajikan olehnya.
Saya memang menyenangi penampilan casual. Pakaian favorit saya adalah celana jeans, bajo kaos, dan jaket. Kadang-kadang saya melengkapinya dengan topi. Seringkali di luar jam kerja, saya mengenakan jeans potongan pendek berukuran ¾. Penampilan seperti ini membuat badan saya merasa nyaman dan sekaligus merasa menjadi seperti diri saya sendiri.
Lebih-lebih lagi jika saya berada di rumah. Celana pendek berpinggang karet dan baju kaos yang sedikit sobek justru membuat nyaman. Kadang-kadang untuk jarak dekat, seperti ke mini market di depan gang, warung, atau sekedar mencari makanan di dekat rumah, saya jarang berganti pakaian lagi. Yah... dengan busana seperti itu saya langsung meluncur ke tempat-tempat tersebut.
Berbeda dengan situasi ketika berada di tempat kerja. Profesi sebagai guru mengharuskan saya berpakaian formal. Meskipun kadang-kadang saya juga mencoba membuat penampilan semiformal. Batik, safari, setelan berdasi merupakan tuntutan dunia kerja. Sudah selayaknya dan sudah menjadi kebiasaan yang lazim diterima orang.
Dalam kondisi yang berbeda dan dengan penampilan yang berbeda ternyata saya sering mendapatkan panggilan yang berbeda. Usia saya kini berada di paroh 30-an. Jelas sudah usia yang sesuai untuk disapa Bapak. Saya juga senang sekali apabila dihormati dengan sapaan tersebut ketika mendapatkan pelayanan di tempat-tempat pelayanan publik. Melalui ulasan DIAZ, saya akhirnya mengerti mengapa seringkali saya lebih disapa dengan DIK atau ADIK daripada dengan sapaan Bapak. Jawabannya jelas dari busana yang saya gunakan.
Busana rupa-rupanya memiliki kesan dan sekaligus citra penampilan tertentu bagi setiap orang yang menggunakannya. Jika saya ingin dihormati dan disapa dengan Bapak, maka saya sepertinya harus memilih pakaian yang memang telah dilabel oleh citra dalam masyarakat sebagai pakaian kaum Bapak. Wui... apakah dengan demikian berarti saya harus melepaskan kenyamanan tubuh yang saya miliki hanya untuk memperoleh status tersebut.
Ada pula yang menyatakan sebenarnya bukan hanya busana yang mempengaruhi status dan penghargaan yang melekat dan diberikan orang pada saya. Muka alias look saya justru yang membuat kesan Bapak jauh dari milik diri saya. Wui.... benar-benar cape deh... Mungkin satu-satunya cara supaya benar-benar bisa jadi Bapak adalah membawa serta seorang anak ketika saya datang ke tempat pelayanan publik.
Saya memang menyenangi penampilan casual. Pakaian favorit saya adalah celana jeans, bajo kaos, dan jaket. Kadang-kadang saya melengkapinya dengan topi. Seringkali di luar jam kerja, saya mengenakan jeans potongan pendek berukuran ¾. Penampilan seperti ini membuat badan saya merasa nyaman dan sekaligus merasa menjadi seperti diri saya sendiri.
Lebih-lebih lagi jika saya berada di rumah. Celana pendek berpinggang karet dan baju kaos yang sedikit sobek justru membuat nyaman. Kadang-kadang untuk jarak dekat, seperti ke mini market di depan gang, warung, atau sekedar mencari makanan di dekat rumah, saya jarang berganti pakaian lagi. Yah... dengan busana seperti itu saya langsung meluncur ke tempat-tempat tersebut.
Berbeda dengan situasi ketika berada di tempat kerja. Profesi sebagai guru mengharuskan saya berpakaian formal. Meskipun kadang-kadang saya juga mencoba membuat penampilan semiformal. Batik, safari, setelan berdasi merupakan tuntutan dunia kerja. Sudah selayaknya dan sudah menjadi kebiasaan yang lazim diterima orang.
Dalam kondisi yang berbeda dan dengan penampilan yang berbeda ternyata saya sering mendapatkan panggilan yang berbeda. Usia saya kini berada di paroh 30-an. Jelas sudah usia yang sesuai untuk disapa Bapak. Saya juga senang sekali apabila dihormati dengan sapaan tersebut ketika mendapatkan pelayanan di tempat-tempat pelayanan publik. Melalui ulasan DIAZ, saya akhirnya mengerti mengapa seringkali saya lebih disapa dengan DIK atau ADIK daripada dengan sapaan Bapak. Jawabannya jelas dari busana yang saya gunakan.
Busana rupa-rupanya memiliki kesan dan sekaligus citra penampilan tertentu bagi setiap orang yang menggunakannya. Jika saya ingin dihormati dan disapa dengan Bapak, maka saya sepertinya harus memilih pakaian yang memang telah dilabel oleh citra dalam masyarakat sebagai pakaian kaum Bapak. Wui... apakah dengan demikian berarti saya harus melepaskan kenyamanan tubuh yang saya miliki hanya untuk memperoleh status tersebut.
Ada pula yang menyatakan sebenarnya bukan hanya busana yang mempengaruhi status dan penghargaan yang melekat dan diberikan orang pada saya. Muka alias look saya justru yang membuat kesan Bapak jauh dari milik diri saya. Wui.... benar-benar cape deh... Mungkin satu-satunya cara supaya benar-benar bisa jadi Bapak adalah membawa serta seorang anak ketika saya datang ke tempat pelayanan publik.
NILAI
Stratifikasi sosial di dalam masyarakat terbentuk karena adanya sesuatu di dalam masyarakat yang dianggap berharga/bernilai. Penguasaan atau kepemilikan terhadap sesuatu yang bernilai dalam jumlah besar akan menempatkan seseorang atau sekelompok orang pada strata yang teratas di dalam sistem stratifikasi sosial. Sesuatu yang bernilai sangat tergantung kepada komunitas dan cara komunitas/masyarakat memandang acuan status dan peranan sosialnya.
Bagi para penambang sumber daya alam, tentulah yang menjadi acuan nilainya adalah hasil penggalian yang menjadi tujuannya. Bagi pedagang sayur di pasar, jualannya merupakan sesuatu yang bernilai. Bagi guru, buku dan media pembelajaran merupakan orientasi nilai. Bagi montir bengkel, peralatan service merupakan orientasi nilai.
Saya teringat kembali kondisi ketika papi saya meninggal akibat kecelakaan. Setelah peringatan satu tahun meninggalnya berbagai perkakas miliknya saya jual kepada tukang besi dan sebagian lagi saya bagi-bagikan secara cuma-Cuma kepada kerabat dekat dan tetangga. Tentu saja mereka yang memperolehnya mengucapkan banyak terima kasih. Bagi saya, barang-barang tersebut tidak lagi bernilai dan justru membebani, karena saya memang tidak bisa dan tidak suka dengan usaha bengkel yang dijalankan beliau.
Sekarang ini saya sering mengoleksi dan membeli berbagai buku. Buku-buku tersebut tidak jarang saya beli dengan harga mahal. Tentu saja saya sering dianggap goblok juga oleh banyak orang. Ngapain numpuk buku banyak-banyak. Bahkan teman-teman saya sering mengatakan lebih baik tumpukan buku tersebut tidak saya beli dan justru diganti dengan makanan. Mami saya bahkan sempat mencoba menghitung harga-harga buku tersebut. Mami menyajikan angka tersebut dan sebuah brosur penawaran mobil. Saya tersenyum saja menatap angka tersebut dan brosur yang disajikan. Tidak lain, mami mau menyampaikan, “Jika buku ini tidak kamu beli, maka kamu sudah bisa dapat mobil di brosur itu.”
Tapi di sinilah letak indahnya dunia. Tidak semua orang memandang penting dan bernilai pada satu jenis benda. Dunia ini diisi dengan begitu banyak perbedaan dan keragaman nilai. Justru di sinilah letak kesempurnaan sinergi dan berjalannya hukum alam. Bukan hanya manusia yang demikian. Lihat sajalah alam ini, penuh dengan perbedaan dalam memandang nilai.
Bagi lebah dan kupu-kupu tentulah madu dari bunga menempati nilai terpenting. Sementara bagi ikan, air adalah suatu habitat yang bernilai mutlak. Burung-burung di udara juga memilih nilai makanannya. Ada yang menyantap serangga dan ada pula yang menyantap biji-bijian.
Jelas pilihan nilai khas bagi semua makhluk yang menempati alam semesta ini.
Bagi para penambang sumber daya alam, tentulah yang menjadi acuan nilainya adalah hasil penggalian yang menjadi tujuannya. Bagi pedagang sayur di pasar, jualannya merupakan sesuatu yang bernilai. Bagi guru, buku dan media pembelajaran merupakan orientasi nilai. Bagi montir bengkel, peralatan service merupakan orientasi nilai.
Saya teringat kembali kondisi ketika papi saya meninggal akibat kecelakaan. Setelah peringatan satu tahun meninggalnya berbagai perkakas miliknya saya jual kepada tukang besi dan sebagian lagi saya bagi-bagikan secara cuma-Cuma kepada kerabat dekat dan tetangga. Tentu saja mereka yang memperolehnya mengucapkan banyak terima kasih. Bagi saya, barang-barang tersebut tidak lagi bernilai dan justru membebani, karena saya memang tidak bisa dan tidak suka dengan usaha bengkel yang dijalankan beliau.
Sekarang ini saya sering mengoleksi dan membeli berbagai buku. Buku-buku tersebut tidak jarang saya beli dengan harga mahal. Tentu saja saya sering dianggap goblok juga oleh banyak orang. Ngapain numpuk buku banyak-banyak. Bahkan teman-teman saya sering mengatakan lebih baik tumpukan buku tersebut tidak saya beli dan justru diganti dengan makanan. Mami saya bahkan sempat mencoba menghitung harga-harga buku tersebut. Mami menyajikan angka tersebut dan sebuah brosur penawaran mobil. Saya tersenyum saja menatap angka tersebut dan brosur yang disajikan. Tidak lain, mami mau menyampaikan, “Jika buku ini tidak kamu beli, maka kamu sudah bisa dapat mobil di brosur itu.”
Tapi di sinilah letak indahnya dunia. Tidak semua orang memandang penting dan bernilai pada satu jenis benda. Dunia ini diisi dengan begitu banyak perbedaan dan keragaman nilai. Justru di sinilah letak kesempurnaan sinergi dan berjalannya hukum alam. Bukan hanya manusia yang demikian. Lihat sajalah alam ini, penuh dengan perbedaan dalam memandang nilai.
Bagi lebah dan kupu-kupu tentulah madu dari bunga menempati nilai terpenting. Sementara bagi ikan, air adalah suatu habitat yang bernilai mutlak. Burung-burung di udara juga memilih nilai makanannya. Ada yang menyantap serangga dan ada pula yang menyantap biji-bijian.
Jelas pilihan nilai khas bagi semua makhluk yang menempati alam semesta ini.
PEMBUNUHAN
Hampir setiap hari di berbagai tempat di muka bumi ini terjadi pembunuhan. Proses makan-memakan di dalam rantai makanan menempati posisi utama di dalam pembunuhan tersebut. Selain itu, tentu saja pembunuhan manusia terhadap sejumlah hewan yang akan dijadikan sebagai daging konsumsi akan menempati posisi selanjutnya. Pembantaian juga terjadi atas hewan oleh manusia atas anggapan bahwa hewan tersebut mengganggu. Sebaliknya hewan juga dapat membunuh manusia.
Manusia sendiri juga melakukan pembunuhan terhadap manusia. Pembunuhan terjadi di medan perang. Pembunuhan terjadi dalam pembantaian etnis. Pembunuhan terjadi dalam konflik. Pembunuhan juga terjadi secara berencana. Pembantaian manusia terhadap manusia bukan suatu cerita baru. Sejarah manusia telah menunjukkan pada dasarnya manusia dapat menjadi pemangsa bagi bangsanya sendiri (alisan kanibal). Peradaban dan hati nuranilah yang membuat manusia tidak melakukan hal tersebut.
Tidak jarang dalam berita kita mendengar anggota keluarga saling membunuh karena berebut harta atau berselisih pendapat. Tidak jarang pula orang tua membunuh anak dan kemudian bunuh diri karena himpitan derita hidup. Pelaku hubungan seks di luar nikah juga kadang membuang dan membunuh hasil hubungan gelapnya. Ada pula pembunuhan yang dilakukan untuk menguasai harta benda. Pembunuhan juga dapat dilatarbelakangi cemburu. Berbagai macam alasan dapat membuat orang membunuh sesamanya.
Ganjaran terhadap para pembunuh juga bermacam-macam. Pembalasan dendam dapat menyebabkan dirinya terbunuh. Hukum juga dapat memberikan sanksi hukuman mati kepada pembunuh yang melakukan tindakannya secara sengaja. Namun, ancaman tersebut tidak pernah membuat pelaku pembunuhan berhenti melakukan aksi dan kejahatannya.
Manusia pada dasarnya memiliki potensi yang sama untuk melakukan berbagai kejahatan, termasuk melakukan pembunuhan. Naluri-naluri jahat tersebut dapat berkembang karena berbagai faktor dari dalam diri maupun di luar diri sang pelaku. Tersedianya berbagai contoh tindakan sadisme dalam bentuk tayangan film-film yang dapat dengan mudah diperoleh merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong seseorang mengembangkan pribadi atau sisi negatif dari dalam dirinya.
Sisi-sisi kelam dan jahat manusia dapat dengan mudah tumbuh jika diberi lahan yang subur di sekitar perilaku jahat. Namun, sisi-sisi kebaikan dan kelembutan justru tumbuh begitu lambat, karena kelembutan dan kesabaran seringkali menuntut kerelaan dan kesediaan untuk menahan derita dan siksa dari sekitar yang memang lebih kuat aura negatifnya.
Manusia sendiri juga melakukan pembunuhan terhadap manusia. Pembunuhan terjadi di medan perang. Pembunuhan terjadi dalam pembantaian etnis. Pembunuhan terjadi dalam konflik. Pembunuhan juga terjadi secara berencana. Pembantaian manusia terhadap manusia bukan suatu cerita baru. Sejarah manusia telah menunjukkan pada dasarnya manusia dapat menjadi pemangsa bagi bangsanya sendiri (alisan kanibal). Peradaban dan hati nuranilah yang membuat manusia tidak melakukan hal tersebut.
Tidak jarang dalam berita kita mendengar anggota keluarga saling membunuh karena berebut harta atau berselisih pendapat. Tidak jarang pula orang tua membunuh anak dan kemudian bunuh diri karena himpitan derita hidup. Pelaku hubungan seks di luar nikah juga kadang membuang dan membunuh hasil hubungan gelapnya. Ada pula pembunuhan yang dilakukan untuk menguasai harta benda. Pembunuhan juga dapat dilatarbelakangi cemburu. Berbagai macam alasan dapat membuat orang membunuh sesamanya.
Ganjaran terhadap para pembunuh juga bermacam-macam. Pembalasan dendam dapat menyebabkan dirinya terbunuh. Hukum juga dapat memberikan sanksi hukuman mati kepada pembunuh yang melakukan tindakannya secara sengaja. Namun, ancaman tersebut tidak pernah membuat pelaku pembunuhan berhenti melakukan aksi dan kejahatannya.
Manusia pada dasarnya memiliki potensi yang sama untuk melakukan berbagai kejahatan, termasuk melakukan pembunuhan. Naluri-naluri jahat tersebut dapat berkembang karena berbagai faktor dari dalam diri maupun di luar diri sang pelaku. Tersedianya berbagai contoh tindakan sadisme dalam bentuk tayangan film-film yang dapat dengan mudah diperoleh merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong seseorang mengembangkan pribadi atau sisi negatif dari dalam dirinya.
Sisi-sisi kelam dan jahat manusia dapat dengan mudah tumbuh jika diberi lahan yang subur di sekitar perilaku jahat. Namun, sisi-sisi kebaikan dan kelembutan justru tumbuh begitu lambat, karena kelembutan dan kesabaran seringkali menuntut kerelaan dan kesediaan untuk menahan derita dan siksa dari sekitar yang memang lebih kuat aura negatifnya.
KALIMAT MAJEMUK SETARA
Kalimat majemuk setara (KMS) merupakan kalimat yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal. Kalimat majemuk setara jelas memiliki lebih dari satu klausa. Klausa-klausa yang terdapat dalam kalimat tunggal menjadi klausa pada kalimat majemuk dengan disertai konjungsi antarklausa. Sebuah klausa merupakan kalimat yang terdiri atas unsur-unsur kalimat. Unsur kalimat tersebut minimal terdiri dari subjek dan predikat. Selain itu, unsur kalimat juga dapat terdiri atas unsur manasuka, yaitu objek dan keterangan.
Tiap-tiap kalimat tunggal yang digabungkan ke dalam kalimat majemuk setara tidak kehilangan unsur-unsurnya. Perhatikan contoh berikut: K1: Matahari mulai terbenam di ufuk Barat; K2: Burung-burung mulai kembali ke sarang; K3: Para pekerja bergegas menuju ke rumahnya; KMS : Matahari mulai terbenam di ufuk Barat, burung-burung mulai kembali ke sarang, dan para pekerja bergegas menuju ke rumahnya. Setiap kalimat yang disatukan dalam KMS tetap memiliki unsur-unsur seperti pada kalimat asalnya. Pada contoh yang disajikan digunakan konjungsi “dan” untuk menghubungkan K1 – K2 dengan K3.
Menurut Prof. Ida Bagus Putrayasa, KMS dapat dibagi menjadi 3, yaitu KMS Sejalan, KMS Berlawanan, dan KMS Penunjukan. Contoh KMS Sejalan: Kemenangan menyakinkan benar, malahan lawannya hanya diberi angka nol. Contoh KMS Berlawanan: Ciri khas manusia bukanlah kebijaksanaan, melainkan kemauan manusia untuk hidup. Contoh KMS Penunjukan: Semua keinginannya sudah terpenuhi, walaupun demikian dia tidak pernah puas.
Hubungan semantis antarklausa dalam KMS ditentukan oleh koordinator dan klausa-klausa yang dihubungkan. Jika dilihat dari segi koordinatornya, hubungan semantis antarklausa dapat berupa hubungan penjumlahan (Baik ayah maupun ibunya tidak setuju kalau ia menikah diusia muda); hubungan perlawanan (Dongeng bukan hanya khayalan omong kosong untuk menidurkan anak, melainkan juga suatu penghayatan terhadap budaya nasional); dan hubungan pemilihan (Dia sedang melamun atau sedang memikirkan pacarnya?).
Tiap-tiap kalimat tunggal yang digabungkan ke dalam kalimat majemuk setara tidak kehilangan unsur-unsurnya. Perhatikan contoh berikut: K1: Matahari mulai terbenam di ufuk Barat; K2: Burung-burung mulai kembali ke sarang; K3: Para pekerja bergegas menuju ke rumahnya; KMS : Matahari mulai terbenam di ufuk Barat, burung-burung mulai kembali ke sarang, dan para pekerja bergegas menuju ke rumahnya. Setiap kalimat yang disatukan dalam KMS tetap memiliki unsur-unsur seperti pada kalimat asalnya. Pada contoh yang disajikan digunakan konjungsi “dan” untuk menghubungkan K1 – K2 dengan K3.
Menurut Prof. Ida Bagus Putrayasa, KMS dapat dibagi menjadi 3, yaitu KMS Sejalan, KMS Berlawanan, dan KMS Penunjukan. Contoh KMS Sejalan: Kemenangan menyakinkan benar, malahan lawannya hanya diberi angka nol. Contoh KMS Berlawanan: Ciri khas manusia bukanlah kebijaksanaan, melainkan kemauan manusia untuk hidup. Contoh KMS Penunjukan: Semua keinginannya sudah terpenuhi, walaupun demikian dia tidak pernah puas.
Hubungan semantis antarklausa dalam KMS ditentukan oleh koordinator dan klausa-klausa yang dihubungkan. Jika dilihat dari segi koordinatornya, hubungan semantis antarklausa dapat berupa hubungan penjumlahan (Baik ayah maupun ibunya tidak setuju kalau ia menikah diusia muda); hubungan perlawanan (Dongeng bukan hanya khayalan omong kosong untuk menidurkan anak, melainkan juga suatu penghayatan terhadap budaya nasional); dan hubungan pemilihan (Dia sedang melamun atau sedang memikirkan pacarnya?).
Langgan:
Entri (Atom)
