Saat paling sulit bagi seorang penulis adalah ketika otaknya sulit untuk diajak bekerja sama. Sinapsis jaringan-jaringan otaknya tersumbat oleh kejenuhan dan rutinitas. Otaknya serasa mati dan berhenti bekerja. Ide-ide segar yang biasanya mengalir dari pikiran dan menjadi buah pena berhenti mengalir untuk waktu tertentu. Situasi demikian paling sulit dihadapi oleh penulis, tetapi tidak dapat dihindari.
Pengobatan untuk situasi tersebut tidak lain adalah keluar sejenak dari kejenuhan dan rutinitas. Tetapi jika penulis tetap terjepit di tengah-tengah kesibukan tersebut, tentu akan sangat sulit baginya untuk segera keluar dan perhentian aliran ide segarnya juga akan semakin lama. Perhentian itu seperti seorang pasien yang terpaksa harus dirawat inap di rumah sakit. Setelah pulih, ia juga belum tentu mampu menghasilkan karya yang baik.
Penyegaran seperti itulah yang saya perlukan dalam kurun 2 bulan. Selama kurang lebih 2 bulan blog ini memang kosong dan tidak ada kreasi baru. Kejenuhan terhadap rutinitas pekerjaan sebagai guru dan juga PJP PBKL membuat saya merasa perlu mencari pengetahuan baru di luar dari tugas yang telah saya jalani. Selama 2 bulan memang tidak ada satupun tulisan yang berhasil dihasilkan, selain pesan singkat melalui ponsel. Bahkan beberapa rekan dan sahabat juga sempat kesal karena balasan pesan singkat benar-benar sangat singkat. Tulisannya hanya sebatas: “YUP”, “OC”, “YOI”, “BAIKLAH”, “GPP”, “SIP!!”, “YAH G TAU”.
Situasi kram otak tersebut juga membuat saya merasa perlu sendiri. Dalam kesendirian saya mencoba mencari sesuatu yang lebih menyenangkan daripada yang selama ini saya lakukan. Membaca berbagai buku juga terasa begitu melelahkan. Malas membaca juga semakin membuat sinapsis neuron otak semakin banyak yang mati. Untungnya, kram otak tidak membuat saya juga menjadi malas menikmatai hiburan.
Saya masih senang menonton berbagai film, melihat-lihat situasi sekitar (pasar, keramaian, jalan), dan juga mengamati perilaku orang-orang di sekitar saya. Saya mencoba merenung dan memahami lebih jauh jika saya menjadi orang-orang yang saya amati. Saya mencoba menempatkan diri saya ke dalam pribadi orang-orang tersebut, mencoba memikirkan apa yang akan saya lakukan seandainya saya adalah pribadi orang tersebut. Bermacam-macam keliaran pemikiran memang dihasilkan dalam otak saya. Tetapi semua itu tetap hanya merupakan gumpalan-gumpalan tumpukan dalam otak yang tidak juga berhasil diolah menjadi tulisan. Mungkin suatu saat – suatu saat – jika kejenuhan dan kram otak itu hilang – semua itu bisa jadi cerita – bisa jadi bahan mengajar – bisa jadi bahan analisis untuk mengembangkan tulisan-tulisan saya.
Pengobatan untuk situasi tersebut tidak lain adalah keluar sejenak dari kejenuhan dan rutinitas. Tetapi jika penulis tetap terjepit di tengah-tengah kesibukan tersebut, tentu akan sangat sulit baginya untuk segera keluar dan perhentian aliran ide segarnya juga akan semakin lama. Perhentian itu seperti seorang pasien yang terpaksa harus dirawat inap di rumah sakit. Setelah pulih, ia juga belum tentu mampu menghasilkan karya yang baik.
Penyegaran seperti itulah yang saya perlukan dalam kurun 2 bulan. Selama kurang lebih 2 bulan blog ini memang kosong dan tidak ada kreasi baru. Kejenuhan terhadap rutinitas pekerjaan sebagai guru dan juga PJP PBKL membuat saya merasa perlu mencari pengetahuan baru di luar dari tugas yang telah saya jalani. Selama 2 bulan memang tidak ada satupun tulisan yang berhasil dihasilkan, selain pesan singkat melalui ponsel. Bahkan beberapa rekan dan sahabat juga sempat kesal karena balasan pesan singkat benar-benar sangat singkat. Tulisannya hanya sebatas: “YUP”, “OC”, “YOI”, “BAIKLAH”, “GPP”, “SIP!!”, “YAH G TAU”.
Situasi kram otak tersebut juga membuat saya merasa perlu sendiri. Dalam kesendirian saya mencoba mencari sesuatu yang lebih menyenangkan daripada yang selama ini saya lakukan. Membaca berbagai buku juga terasa begitu melelahkan. Malas membaca juga semakin membuat sinapsis neuron otak semakin banyak yang mati. Untungnya, kram otak tidak membuat saya juga menjadi malas menikmatai hiburan.
Saya masih senang menonton berbagai film, melihat-lihat situasi sekitar (pasar, keramaian, jalan), dan juga mengamati perilaku orang-orang di sekitar saya. Saya mencoba merenung dan memahami lebih jauh jika saya menjadi orang-orang yang saya amati. Saya mencoba menempatkan diri saya ke dalam pribadi orang-orang tersebut, mencoba memikirkan apa yang akan saya lakukan seandainya saya adalah pribadi orang tersebut. Bermacam-macam keliaran pemikiran memang dihasilkan dalam otak saya. Tetapi semua itu tetap hanya merupakan gumpalan-gumpalan tumpukan dalam otak yang tidak juga berhasil diolah menjadi tulisan. Mungkin suatu saat – suatu saat – jika kejenuhan dan kram otak itu hilang – semua itu bisa jadi cerita – bisa jadi bahan mengajar – bisa jadi bahan analisis untuk mengembangkan tulisan-tulisan saya.

0 comments:
Poskan Komentar