Kalimat majemuk setara (KMS) merupakan kalimat yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal. Kalimat majemuk setara jelas memiliki lebih dari satu klausa. Klausa-klausa yang terdapat dalam kalimat tunggal menjadi klausa pada kalimat majemuk dengan disertai konjungsi antarklausa. Sebuah klausa merupakan kalimat yang terdiri atas unsur-unsur kalimat. Unsur kalimat tersebut minimal terdiri dari subjek dan predikat. Selain itu, unsur kalimat juga dapat terdiri atas unsur manasuka, yaitu objek dan keterangan.
Tiap-tiap kalimat tunggal yang digabungkan ke dalam kalimat majemuk setara tidak kehilangan unsur-unsurnya. Perhatikan contoh berikut: K1: Matahari mulai terbenam di ufuk Barat; K2: Burung-burung mulai kembali ke sarang; K3: Para pekerja bergegas menuju ke rumahnya; KMS : Matahari mulai terbenam di ufuk Barat, burung-burung mulai kembali ke sarang, dan para pekerja bergegas menuju ke rumahnya. Setiap kalimat yang disatukan dalam KMS tetap memiliki unsur-unsur seperti pada kalimat asalnya. Pada contoh yang disajikan digunakan konjungsi “dan” untuk menghubungkan K1 – K2 dengan K3.
Menurut Prof. Ida Bagus Putrayasa, KMS dapat dibagi menjadi 3, yaitu KMS Sejalan, KMS Berlawanan, dan KMS Penunjukan. Contoh KMS Sejalan: Kemenangan menyakinkan benar, malahan lawannya hanya diberi angka nol. Contoh KMS Berlawanan: Ciri khas manusia bukanlah kebijaksanaan, melainkan kemauan manusia untuk hidup. Contoh KMS Penunjukan: Semua keinginannya sudah terpenuhi, walaupun demikian dia tidak pernah puas.
Hubungan semantis antarklausa dalam KMS ditentukan oleh koordinator dan klausa-klausa yang dihubungkan. Jika dilihat dari segi koordinatornya, hubungan semantis antarklausa dapat berupa hubungan penjumlahan (Baik ayah maupun ibunya tidak setuju kalau ia menikah diusia muda); hubungan perlawanan (Dongeng bukan hanya khayalan omong kosong untuk menidurkan anak, melainkan juga suatu penghayatan terhadap budaya nasional); dan hubungan pemilihan (Dia sedang melamun atau sedang memikirkan pacarnya?).
Tiap-tiap kalimat tunggal yang digabungkan ke dalam kalimat majemuk setara tidak kehilangan unsur-unsurnya. Perhatikan contoh berikut: K1: Matahari mulai terbenam di ufuk Barat; K2: Burung-burung mulai kembali ke sarang; K3: Para pekerja bergegas menuju ke rumahnya; KMS : Matahari mulai terbenam di ufuk Barat, burung-burung mulai kembali ke sarang, dan para pekerja bergegas menuju ke rumahnya. Setiap kalimat yang disatukan dalam KMS tetap memiliki unsur-unsur seperti pada kalimat asalnya. Pada contoh yang disajikan digunakan konjungsi “dan” untuk menghubungkan K1 – K2 dengan K3.
Menurut Prof. Ida Bagus Putrayasa, KMS dapat dibagi menjadi 3, yaitu KMS Sejalan, KMS Berlawanan, dan KMS Penunjukan. Contoh KMS Sejalan: Kemenangan menyakinkan benar, malahan lawannya hanya diberi angka nol. Contoh KMS Berlawanan: Ciri khas manusia bukanlah kebijaksanaan, melainkan kemauan manusia untuk hidup. Contoh KMS Penunjukan: Semua keinginannya sudah terpenuhi, walaupun demikian dia tidak pernah puas.
Hubungan semantis antarklausa dalam KMS ditentukan oleh koordinator dan klausa-klausa yang dihubungkan. Jika dilihat dari segi koordinatornya, hubungan semantis antarklausa dapat berupa hubungan penjumlahan (Baik ayah maupun ibunya tidak setuju kalau ia menikah diusia muda); hubungan perlawanan (Dongeng bukan hanya khayalan omong kosong untuk menidurkan anak, melainkan juga suatu penghayatan terhadap budaya nasional); dan hubungan pemilihan (Dia sedang melamun atau sedang memikirkan pacarnya?).

0 comments:
Poskan Komentar