
Diterbitkan di Equator, 22 dan 23 April 2008
Nama Kartini tentu saja tidak asing lagi di telinga bangsa kita. Peringatan Hari Kartini dijadikan sebagai momentum untuk mengingat perjuangan emansipasi wanita. Hampir setiap tahun dan dalam berbagai kesempatan memperingati Hari Kartini, nilai-nilai perjuangan emansipasi inilah yang ditonjolkan dari diri Kartini. Tidak dapat dipungkiri, berkat Kartini, wanita Indonesia saat ini dapat eksis di dalam berbagai bidang – sejajar dengan kaum pria.
Memahami Kartini sebagai pejuang emansipasi wanita sesungguhnya membuat kita tidak menyadari peran lain yang lebih berarti dari Kartini di dalam sejarah panjang perjuangan Indonesia. Melihat Kartini sebatas sebagai pejuang emansipasi wanita adalah sebuah perspektif sempit yang sungguh membosankan. Peringatan Hari Kartini pada akhirnya tidak lebih dari sebuah seremonial rutin yang mengubur nilai-nilai personal Kartini yang lebih penting untuk diketahui generasi muda bangsa kita.
Kartini memang bukan Dewi. Ia juga tidak memiliki kesempatan bisa menjadi bupati, direktur, anggota DPR, atau presiden, seperti yang saat ini telah berhasil dijabat oleh wanita-wanita Indonesia. Memahami Kartini secara menyeluruh akan lebih berarti jika kita menerawang lebih jauh pada idealismenya, cita-cita yang dimiliki, perjuangan yang dilakukan dan secara khusus pada nilai-nilai personalnya sebagai salah satu pelaku sejarah di negeri ini.
Sebenarnya, pemahaman secara menyeluruh terhadap Kartini dapat dilakukan dengan mudah. Kartini meninggalkan begitu banyak tulisan yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk membangun kembali pribadinya sebagai pejuang yang memiliki nilai personal tinggi bagi bangsa kita. Nilai-nilai personal tersebut tidak saja hanya penting bagi kaum wanita, tetapi bagi semua warga bangsa kita.
Paling tidak ada lima nilai personal yang membuat Kartini memiliki perbedaan dari wanita lain di masa hidupnya. Nilai-nilai tersebut penting untuk diketahui sebab mencerminkan idealisme seorang pejuang. Semangat yang ada di dalam idealisme perjuangan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan kajian yang dapat membangun karakter positif bagi siapa saja yang ingin sukses di dalam mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya. Nilai-nilai personal Kartini yang dapat diidentifikasi dari berbagai tulisannya adalah: penulis yang produktif, pemikir yang revolusioner, informan sejarah bangsa Indonesia, pejuang berhaluan etis, dan perintis nasionalisme.
Penulis yang Produktif
Sebagai keturunan bangsawan, Kartini memang beruntung dapat masuk sekolah dasar yang baik. Bersama-sama dengan anak-anak Belanda Indo, ia disekolahkan oleh ayahnya di Europe Lagere School. Melalui pendidikan formal, ia memperoleh kesempatan untuk mengasah kemampuan membaca dan menulis. Latar belakang ayah yang memang juga gemar membaca, membuat Kartini sejak kecil juga terbiasa membaca berbagai bahan bacaan, termasuk bahan bacaan berbahasa Belanda.
Ide-ide segar yang diperolehnya melalui berbagai bahan bacaan memberinya insipirasi untuk aktif menulis. Ia memadukan berbagai pemikiran, perasaan, dan juga keinginannya dengan hal-hal baru yang dibacanya. Hasilnya ia tuangkan dalam berbagai surat yang ditulis untuk sahabat-sahabatnya.
Tanpa Kartini sadari, surat-surat yang ditulisnya dari hari ke hari menjadi kumpulan naskah yang sangat insipiratif dan menunjukkan bakat besarnya sebagai seorang penulis dan pemikir. Penulis dan pemikir dalam banyak hal. Penulis dan pemikir yang memiliki wawasan sangat luas, meskipun sempat pula berada di dalam pingitan.
Secara sembunyi-sembunyi, Kartini juga menulis berbagai karangan dan artikel. Karangan dan artikel tersebut ditulis tanpa nama (anonim) ke penerbit melalui bantuan temannya. Artikel-artikel tersebut dengan sangat cepat tersohor.
Pemikir yang Revolusioner
Kartini hidup pada era masyarakat yang sangat kental terpengaruh oleh feodalisme dan imperialisme. Dalam pandangan masyarakat feodal, wanita adalah warga masyarakat kelas bawah. Wanita dituntut untuk tunduk dan patuh kepada kaum pria. Poligami, kawin paksa, dan pemingitan terhadap kaum perempuan terjadi pada semua level masyarakat. Kondisi yang sama dialami oleh Kartini.
Walaupun menjalani kondisi yang sama, Kartini sedikit lebih beruntung. Justru pemikiran revolusionernya berkembang akibat selama masa dipingit ia banyak mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Kartini menjadi dewasa sebelum waktunya. Ia sering merasa kesal dan marah dengan kesewenangan kaum pria dewasa terhadap wanita. Ia juga memendam kemarahan dan kekesalannya ketika mendengarkan pemicaraan mengenai penindasan kaum imperialis terhadap rakyat.
Niat tertanam di dalam hatinya untuk dapat melakukan tindakan besar dalam mengubah pemikiran negatif kaum feodal dan penindasan kaum imperialis terhadap bangsa ini. Memiliki pengetahuan yang luas, memberikan kesempatan kepada kaum wanita untuk belajar, dan memperjuangkan kebebasan dari belenggu penjajahan merupakan pemikiran penting yang tidak terpikirkan di kala itu.
Informan Sejarah Bangsa Indonesia
Tulisan yang dibuat oleh Kartini berasal dari berbagai kurun waktu, sepanjang hidupnya. Ia menulis mengenai berbagai hal yang didengar dan dibacanya. Ia juga banyak menulis hal-hal baru yang tidak terpikirkan oleh penulis pada masa itu. Tema yang diangkat oleh Kartini dalam tulisannya tidak hanya mengenai emansipasi dan perjuangan nasib kaum perempuan saja.
Kartini menulis banyak hal. Sebagai anak yang besar di dalam adat dan tradisi, ia dapat menulis dengan baik berbagai informasi mengenai kebudayaan yang dianggapnya bernilai tinggi, termasuk tulisan mengenai kebudayaan Jawa dan kerajinan seni ukir Jepara. Kepedulian Kartini terhadap nasib rakyat, juga mendorong Kartini menuangkannya dalam pandangannya terhadap kekejaman kaum penjajah, termasuk idenya yang ternyata selaras dengan pemikiran kaum etis Belanda.
Protes-protes Kartini terhadap kesewenang-wenangan dan adat istiadat yang kolot juga tidak luput diinformasikannya. Kartini menulis berbagai artikel yang mengkritik pemerintahan Belanda. Ia juga sangat menentang tradisi feodal yang dianggapnya hipokrit. Semua itu merupakan informasi yang sangat penting untuk menelusuri jejak-jejak sejarah Indonesia pada masa pemerintahan Kolonial.
Pejuang Berhaluan Etis
Sejak merasakan sendiri ketertindasan dan melihat nasib masyarakat di sekitarnya yang tertindak, baik penindasan kaum pria terhadap wanita dan juga penindasan Belanda terhadap rakyat Indonesia, Kartini telah menanamkan tekadnya untuk dapat membantu kaum tertindas jika ia keluar dari pingitan.
Tekad itu ia wujudkan setelah ia memperoleh kesempatan. Ia memulainya dengan membimbing para pengrajin, serta membuka sekolah dan mengajar anak-anak, terutama wanita. Ia juga membantu menanamkan semangat dan jiwa entrepreneur di kalangan para pengrajin (batik). Pengetahuan pertanian juga menjadi salah satu prioritas di dalam program pendidikan yang dibuat oleh Kartini.
Pada akhirnya, kerja keras Kartini ternyata lebih etis daripada pihak Belanda yang memiliki program Etis. Politik etis Belanda tidak lebih hanya sebatas program yang tidak pernah terealisasi. Politik itu justru berubah haluan menjadi Politik Asosiasi. Namun berkat kecerdasannya, Kartini berhasil memanfaatkan ilmu yang diperolehnya melalui pendidikan Belanda untuk membantu menjalankan haluan-haluan etis yang telah diyakininya dapat membantu masyarakat di sekitarnya.
Perintis Nasionalisme
Kartini memang sangat kagum dengan kemajuan pendidikan Barat. Kekaguman tersebut tidak disertai dengan keinginannya menjadi seperti orang Barat. Keinginan tersebut justru membuatnya lebih mempertajam rasa nasionalismenya. Ia sadar dan yakin, rakyat Indonesia di masa itu harus berubah. Caranya tidak lain, mereka harus memperoleh pendidikan seperti bangsa Barat.
Bangsa Barat diyakini oleh Kartini dapat menaklukkan dan menjajah karena memiliki pengetahuan yang cukup. Kebodohan rakyat kita adalah akar dari mudahnya kita ditindas. Melalui pendidikan yang dibentuknya ia menghimpun dan menumbuhkan perikatan persaudaraan diantara pelajar-pelajaranya untuk terus belajar dan berjuang menunjukkan identitas keunggulan budaya bangsa tanpa harus menolak atau anti terhadap Barat, melainkan menjadikan ilmu dari Barat sebagai penopang pilar perjuangan untuk terlepas dari segala bentuk penindasan.
Memahami Kartini sebagai pejuang emansipasi wanita sesungguhnya membuat kita tidak menyadari peran lain yang lebih berarti dari Kartini di dalam sejarah panjang perjuangan Indonesia. Melihat Kartini sebatas sebagai pejuang emansipasi wanita adalah sebuah perspektif sempit yang sungguh membosankan. Peringatan Hari Kartini pada akhirnya tidak lebih dari sebuah seremonial rutin yang mengubur nilai-nilai personal Kartini yang lebih penting untuk diketahui generasi muda bangsa kita.
Kartini memang bukan Dewi. Ia juga tidak memiliki kesempatan bisa menjadi bupati, direktur, anggota DPR, atau presiden, seperti yang saat ini telah berhasil dijabat oleh wanita-wanita Indonesia. Memahami Kartini secara menyeluruh akan lebih berarti jika kita menerawang lebih jauh pada idealismenya, cita-cita yang dimiliki, perjuangan yang dilakukan dan secara khusus pada nilai-nilai personalnya sebagai salah satu pelaku sejarah di negeri ini.
Sebenarnya, pemahaman secara menyeluruh terhadap Kartini dapat dilakukan dengan mudah. Kartini meninggalkan begitu banyak tulisan yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk membangun kembali pribadinya sebagai pejuang yang memiliki nilai personal tinggi bagi bangsa kita. Nilai-nilai personal tersebut tidak saja hanya penting bagi kaum wanita, tetapi bagi semua warga bangsa kita.
Paling tidak ada lima nilai personal yang membuat Kartini memiliki perbedaan dari wanita lain di masa hidupnya. Nilai-nilai tersebut penting untuk diketahui sebab mencerminkan idealisme seorang pejuang. Semangat yang ada di dalam idealisme perjuangan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan kajian yang dapat membangun karakter positif bagi siapa saja yang ingin sukses di dalam mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya. Nilai-nilai personal Kartini yang dapat diidentifikasi dari berbagai tulisannya adalah: penulis yang produktif, pemikir yang revolusioner, informan sejarah bangsa Indonesia, pejuang berhaluan etis, dan perintis nasionalisme.
Penulis yang Produktif
Sebagai keturunan bangsawan, Kartini memang beruntung dapat masuk sekolah dasar yang baik. Bersama-sama dengan anak-anak Belanda Indo, ia disekolahkan oleh ayahnya di Europe Lagere School. Melalui pendidikan formal, ia memperoleh kesempatan untuk mengasah kemampuan membaca dan menulis. Latar belakang ayah yang memang juga gemar membaca, membuat Kartini sejak kecil juga terbiasa membaca berbagai bahan bacaan, termasuk bahan bacaan berbahasa Belanda.
Ide-ide segar yang diperolehnya melalui berbagai bahan bacaan memberinya insipirasi untuk aktif menulis. Ia memadukan berbagai pemikiran, perasaan, dan juga keinginannya dengan hal-hal baru yang dibacanya. Hasilnya ia tuangkan dalam berbagai surat yang ditulis untuk sahabat-sahabatnya.
Tanpa Kartini sadari, surat-surat yang ditulisnya dari hari ke hari menjadi kumpulan naskah yang sangat insipiratif dan menunjukkan bakat besarnya sebagai seorang penulis dan pemikir. Penulis dan pemikir dalam banyak hal. Penulis dan pemikir yang memiliki wawasan sangat luas, meskipun sempat pula berada di dalam pingitan.
Secara sembunyi-sembunyi, Kartini juga menulis berbagai karangan dan artikel. Karangan dan artikel tersebut ditulis tanpa nama (anonim) ke penerbit melalui bantuan temannya. Artikel-artikel tersebut dengan sangat cepat tersohor.
Pemikir yang Revolusioner
Kartini hidup pada era masyarakat yang sangat kental terpengaruh oleh feodalisme dan imperialisme. Dalam pandangan masyarakat feodal, wanita adalah warga masyarakat kelas bawah. Wanita dituntut untuk tunduk dan patuh kepada kaum pria. Poligami, kawin paksa, dan pemingitan terhadap kaum perempuan terjadi pada semua level masyarakat. Kondisi yang sama dialami oleh Kartini.
Walaupun menjalani kondisi yang sama, Kartini sedikit lebih beruntung. Justru pemikiran revolusionernya berkembang akibat selama masa dipingit ia banyak mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Kartini menjadi dewasa sebelum waktunya. Ia sering merasa kesal dan marah dengan kesewenangan kaum pria dewasa terhadap wanita. Ia juga memendam kemarahan dan kekesalannya ketika mendengarkan pemicaraan mengenai penindasan kaum imperialis terhadap rakyat.
Niat tertanam di dalam hatinya untuk dapat melakukan tindakan besar dalam mengubah pemikiran negatif kaum feodal dan penindasan kaum imperialis terhadap bangsa ini. Memiliki pengetahuan yang luas, memberikan kesempatan kepada kaum wanita untuk belajar, dan memperjuangkan kebebasan dari belenggu penjajahan merupakan pemikiran penting yang tidak terpikirkan di kala itu.
Informan Sejarah Bangsa Indonesia
Tulisan yang dibuat oleh Kartini berasal dari berbagai kurun waktu, sepanjang hidupnya. Ia menulis mengenai berbagai hal yang didengar dan dibacanya. Ia juga banyak menulis hal-hal baru yang tidak terpikirkan oleh penulis pada masa itu. Tema yang diangkat oleh Kartini dalam tulisannya tidak hanya mengenai emansipasi dan perjuangan nasib kaum perempuan saja.
Kartini menulis banyak hal. Sebagai anak yang besar di dalam adat dan tradisi, ia dapat menulis dengan baik berbagai informasi mengenai kebudayaan yang dianggapnya bernilai tinggi, termasuk tulisan mengenai kebudayaan Jawa dan kerajinan seni ukir Jepara. Kepedulian Kartini terhadap nasib rakyat, juga mendorong Kartini menuangkannya dalam pandangannya terhadap kekejaman kaum penjajah, termasuk idenya yang ternyata selaras dengan pemikiran kaum etis Belanda.
Protes-protes Kartini terhadap kesewenang-wenangan dan adat istiadat yang kolot juga tidak luput diinformasikannya. Kartini menulis berbagai artikel yang mengkritik pemerintahan Belanda. Ia juga sangat menentang tradisi feodal yang dianggapnya hipokrit. Semua itu merupakan informasi yang sangat penting untuk menelusuri jejak-jejak sejarah Indonesia pada masa pemerintahan Kolonial.
Pejuang Berhaluan Etis
Sejak merasakan sendiri ketertindasan dan melihat nasib masyarakat di sekitarnya yang tertindak, baik penindasan kaum pria terhadap wanita dan juga penindasan Belanda terhadap rakyat Indonesia, Kartini telah menanamkan tekadnya untuk dapat membantu kaum tertindas jika ia keluar dari pingitan.
Tekad itu ia wujudkan setelah ia memperoleh kesempatan. Ia memulainya dengan membimbing para pengrajin, serta membuka sekolah dan mengajar anak-anak, terutama wanita. Ia juga membantu menanamkan semangat dan jiwa entrepreneur di kalangan para pengrajin (batik). Pengetahuan pertanian juga menjadi salah satu prioritas di dalam program pendidikan yang dibuat oleh Kartini.
Pada akhirnya, kerja keras Kartini ternyata lebih etis daripada pihak Belanda yang memiliki program Etis. Politik etis Belanda tidak lebih hanya sebatas program yang tidak pernah terealisasi. Politik itu justru berubah haluan menjadi Politik Asosiasi. Namun berkat kecerdasannya, Kartini berhasil memanfaatkan ilmu yang diperolehnya melalui pendidikan Belanda untuk membantu menjalankan haluan-haluan etis yang telah diyakininya dapat membantu masyarakat di sekitarnya.
Perintis Nasionalisme
Kartini memang sangat kagum dengan kemajuan pendidikan Barat. Kekaguman tersebut tidak disertai dengan keinginannya menjadi seperti orang Barat. Keinginan tersebut justru membuatnya lebih mempertajam rasa nasionalismenya. Ia sadar dan yakin, rakyat Indonesia di masa itu harus berubah. Caranya tidak lain, mereka harus memperoleh pendidikan seperti bangsa Barat.
Bangsa Barat diyakini oleh Kartini dapat menaklukkan dan menjajah karena memiliki pengetahuan yang cukup. Kebodohan rakyat kita adalah akar dari mudahnya kita ditindas. Melalui pendidikan yang dibentuknya ia menghimpun dan menumbuhkan perikatan persaudaraan diantara pelajar-pelajaranya untuk terus belajar dan berjuang menunjukkan identitas keunggulan budaya bangsa tanpa harus menolak atau anti terhadap Barat, melainkan menjadikan ilmu dari Barat sebagai penopang pilar perjuangan untuk terlepas dari segala bentuk penindasan.

0 comments:
Poskan Komentar