Sabtu, 05 April 2008

Perjuangan Bagi Kaum Wanita


Desakan agar Hillary mundur dari kampanye dan pencalonannya sebagai presiden memang sangat tepat. Desakan dari kelompok yang menginginkan Hillary mundur dan melancarkan jalan bagi Obama memang secara sepintas tampak sebagai sesuatu yang wajar, karena keduanya berasal dari partai yang sama. Tetapi, jika dicermati secara mendetail dari perspektif gender jelas sangat luar biasa.

Apabila Hillary memutuskan untuk memberi kelancaran jalan bagi Obama, jelas Hillary telah mematahkan semangat kaum wanita. Perlu diingat pula, bahwa meskipun merupakan sebuah negara demokrasi, Amerika Serikat tidak lepas dari tindakan diskriminasi. Tindakan diskriminasi ini juga terjadi pada perilaku gender. Tidak mengherankan, sebab negara ini telah besar dan berada dalam kepemimpinan kaum pria untuk periode waktu yang panjang.

Budaya dan perilaku paternalistik tampaknya juga masih diusung oleh sebagian besar warga Amerika, termasuk mereka yang telah memiliki latar belakang pendidikan yang sangat tinggi dan berpemikiran maju. Usul yang diajukan oleh kelompok yang menginginkan Hillary mundur justru menunjukkan bahwa semangat mengusung dan mempertahankan dominasi pria di kancah politik sangat besar.

Sementara bagi Hillary, sudah saatnya ia menunjukkan kepada negaranya, kepada kaum wanita, dan juga kepada kaum pria bahwa wanita bukanlah makhluk yang lemah. Wanita tidak seharusnya hanya menjadi pendamping bagi suami. Wanita sudah saatnya memperoleh kesempatan yang sama di kancah persaingan politik. Tindakan penolakan untuk mundur jelas menunjukkan interitasnya dalam memperjuangkan hak-hak wanita.

Hak kaum wanita tidak hanya sebatas hak untuk memperoleh pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, serta perlindungan saja. Sudah saatnya, wanita juga menunjukkan kemampuan dan perilaku tegarnya dalam memperjuangkan nasib orang banyak.

Memang perjuangan Hillary sendiri di kancah politik sedikit tersandung dengan bayang-banyang sang suami. Tidak dapat ditolak, beberapa sisi kelam dan kelemahan semasa kepemimpinan Clinton dapat menjadi noda bagi laju perjalanan Hillary untuk memenangkan pemilu. Namun, Hillary adalah pribadi yang jelas berbeda dengan suaminya.

Dalam teori perilaku memang diyakini bahwa interaksi yang intensif melalui komunikasi antarpribadi akan menghasilkan perilaku yang mirip. Interaksi Hillary tidak hanya dengan sang suami saja. Hillary memiliki begitu banyak aktivitas sosial dan politik dalam perjalanan panjang hidupnya. Ia berinteraksi dengan banyak figur-figur positif yang dapat mempengaruhi pribadi dan kapasitas kepemimpinannya. Jelas figur Clinton, sang suami hanya merupakan sebagian dari corak yang akan mempengaruhi kepribadiannya.

Memang dalam prediksi, Hillary dapat saja dikalahkan oleh Obama. Perjuangan Hillary tidak selesai dengan kekalahan, jika itu terjadi. Paling tidak, Hillary telah menunjukkan suatu konsistensi yang dapat dijadikan bagi kaum wanita untuk terus berjuang. Suatu saat, mungkin tidak saat ini, wanita akan semakin banyak yang menjadi pemimpin dari bangsa-bangsa besar. Atau mungkinkah, sejarah akan membuat catatan penting jika akhirnya wanita berhasil duduk dalam posisi nomor satu di NegeriPaman sam tersebut dalam waktu dekat ini

0 comments: