
Lama sebagai pemimpin spritual di Tibet memang merupakan figur yang sangat populer. Dengan anugerah Nobel yang diterimanya ia juga dikenal oleh masyarakat dunia. Dalam beberapa bulan terakhir Lama juga semakin populer, yakni semenjak kericuhan antara Tibet dan Cina terjadi. Dengan figur dan juga predikat yang disandangnya, Lama berhasil menggugah simpati masyarakat dunia terhadap berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi di Tibet.
Solidaritas terhadap masyarakat Tibet bermunculan di berbagai belahan dunia. Solidaritas itu diwujudkan dalam bentuk demonstrasi yang ditujukan ke kedutaan-kedutaan besar Cina di berbagai negara. Demonstrasi ini tidak kalah serunya dibandingkan dengan demonstrasi anti film FITNA yang ditujukan ke kedutaan besar Belanda.
Dalam melakukan demonstrasi, pandangan yang diusung oleh kaum demonstran adalah sikap dan paradigma kaum yang dianggap tertindas di Tibet. Sementara dalam paradigma yang lain, yaitu dari pihak Cina, justru kearifan dan sikap Dalai Lama dituding sebagai sebuah kedok untuk melakukan boikot terhadap pelaksanaan Olimpiade.
Jika dalam pemberitaan banyak media massa, kekerasan terhadap warga Tibet justru yang ditonjolkan, dalam pemberitaan dan sanggahan Cina ditunjukkan kasus yang justru sangat mengejutkan. Dalam sebuah publikasi, Cina justru menyatakan menemukan adanya berbagai bom dan senjata yang disembunyikan oleh kaum demonstran Tibet ketika melakukan aksi. Senjata dan bom tersebut akan dijadikan sebagai alat untuk melakukan protes bunuh diri. Tujuannya tidak lain untuk menunjukkan bahwa Cina melakukan kekerasan.
Cina menganggap bahwa Dalai Lama merupakan otak dari tindakan pengecut tersebut. Bagi Cina, konflik yang terjadi akhir-akhir ini sebenarnya sudah lama menjadi persoalan, tetapi mengapa justru Tibet dan Dalai Lama baru melakukan aksi ketika Olimpiade justru akan dilaksanakan. Dengan pandangan tersebut, Cina justru menganggap bahwa Dalai Lama dan warga Tibet memiliki maksud terselubung di dalam aksi-aksi mereka.
Pertanyaan akan muncul dalam benak kita, apakah mungkin seorang tokoh spiritual dan pengusung perdamaian dunia melakukan hal sepicik itu?
Solidaritas terhadap masyarakat Tibet bermunculan di berbagai belahan dunia. Solidaritas itu diwujudkan dalam bentuk demonstrasi yang ditujukan ke kedutaan-kedutaan besar Cina di berbagai negara. Demonstrasi ini tidak kalah serunya dibandingkan dengan demonstrasi anti film FITNA yang ditujukan ke kedutaan besar Belanda.
Dalam melakukan demonstrasi, pandangan yang diusung oleh kaum demonstran adalah sikap dan paradigma kaum yang dianggap tertindas di Tibet. Sementara dalam paradigma yang lain, yaitu dari pihak Cina, justru kearifan dan sikap Dalai Lama dituding sebagai sebuah kedok untuk melakukan boikot terhadap pelaksanaan Olimpiade.
Jika dalam pemberitaan banyak media massa, kekerasan terhadap warga Tibet justru yang ditonjolkan, dalam pemberitaan dan sanggahan Cina ditunjukkan kasus yang justru sangat mengejutkan. Dalam sebuah publikasi, Cina justru menyatakan menemukan adanya berbagai bom dan senjata yang disembunyikan oleh kaum demonstran Tibet ketika melakukan aksi. Senjata dan bom tersebut akan dijadikan sebagai alat untuk melakukan protes bunuh diri. Tujuannya tidak lain untuk menunjukkan bahwa Cina melakukan kekerasan.
Cina menganggap bahwa Dalai Lama merupakan otak dari tindakan pengecut tersebut. Bagi Cina, konflik yang terjadi akhir-akhir ini sebenarnya sudah lama menjadi persoalan, tetapi mengapa justru Tibet dan Dalai Lama baru melakukan aksi ketika Olimpiade justru akan dilaksanakan. Dengan pandangan tersebut, Cina justru menganggap bahwa Dalai Lama dan warga Tibet memiliki maksud terselubung di dalam aksi-aksi mereka.
Pertanyaan akan muncul dalam benak kita, apakah mungkin seorang tokoh spiritual dan pengusung perdamaian dunia melakukan hal sepicik itu?

0 comments:
Poskan Komentar